Newsils.com || Sidoarjo – Perayaan Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen penuh kedamaian dan kebersamaan kembali diwarnai fenomena yang memprihatinkan di Sidoarjo. Tradisi penyulutan mercon bumbung berbahan kimia dan kertas, yang menghasilkan suara ledakan sangat keras, terus berulang dari tahun ke tahun—bahkan hingga 2026—tanpa tanda-tanda akan berhenti.
Bagi sebagian warga, suara dentuman tersebut bukan lagi sekadar hiburan, melainkan gangguan serius yang dapat mengganggu kenyamanan, memicu ketakutan pada anak-anak dan lansia, hingga berpotensi membahayakan keselamatan.
Namun ironisnya, praktik ini seolah dianggap lumrah.
Salah satu faktor utama yang membuat tradisi ini terus berlangsung adalah sikap permisif masyarakat. Banyak warga yang memilih diam saat melihat aksi penyulutan petasan, entah karena takut terjadi konflik, merasa bukan tanggung jawab pribadi, atau sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Akibatnya, tidak ada kontrol sosial yang cukup kuat untuk menghentikan kebiasaan ini.
Di sisi lain, penegakan aturan juga kerap dinilai belum maksimal. Meski penggunaan petasan berbahaya sebenarnya telah diatur dan dibatasi, implementasi di lapangan sering kali tidak konsisten.
Hal ini membuat pelaku merasa bebas mengulangi tindakan yang sama setiap tahunnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya pada tradisi itu sendiri, tetapi juga pada budaya pembiaran yang mengiringinya.
Tanpa kesadaran kolektif dan keberanian untuk saling mengingatkan, kebiasaan ini akan terus diwariskan, bahkan berpotensi menjadi “tradisi turun-temurun” yang sulit dihentikan.
Diperlukan peran aktif semua pihak—masyarakat, tokoh lingkungan, hingga aparat—untuk mengubah pola ini. Dan siapa pula yang akan bertanggung jawab atas sisa sisa kertas yang berhamburan itu.
Edukasi tentang bahaya petasan, penguatan aturan, serta keberanian untuk menegur secara bijak bisa menjadi langkah awal agar perayaan hari raya kembali pada maknanya: aman, damai, dan penuh kebahagiaan, tanpa dentuman yang mengancam. Sult





