Jangan Tunggu Terlambat: Saatnya Berhenti Mengibuli, Meninggalkan Alkohol, dan Kembali Menjadi Diri Sendiri

Newsils.com || SURABAYA — Ada kalanya manusia terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa bercermin pada dirinya sendiri. Ada yang terbiasa mengibuli orang lain, memutarbalikkan keadaan, berjanji tetapi tidak pernah menepati, bahkan menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.

Namun, apakah orang seperti itu harus dijauhi selamanya?
Belum tentu.

Setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk berubah. Yang dibutuhkan terkadang bukan cacian, melainkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Berhentilah mengibuli orang lain sebelum kebohongan itu akhirnya menghancurkan dirimu sendiri.”
Orang yang suka mengibuli perlu diajak melihat akibat dari perilakunya.

Bukan dengan mempermalukan, tetapi dengan mengingatkan bahwa kepercayaan orang lain tidak mudah didapat dan sangat sulit dikembalikan ketika sudah rusak.

Mulailah dari hal sederhana: berani berkata jujur, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan belajar bertanggung jawab atas setiap perkataan maupun perbuatan.
Begitu pula dengan seseorang yang sudah terpengaruh minuman keras, terlebih ketika penggunaan alkohol telah berkembang menjadi ketergantungan.

Alkohol bukan sekadar persoalan kebiasaan. Pada sebagian orang, ketergantungan alkohol merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan pertolongan dan penanganan yang tepat.

Gangguan penggunaan alkohol dapat membuat seseorang kesulitan mengendalikan keinginannya untuk minum meskipun sudah mengetahui dampak buruknya.

Karena itu, jangan selalu mengatakan, “Kalau mau berhenti, ya tinggal berhenti.”
Persoalannya tidak sesederhana itu.

Pada orang yang sudah minum berat dalam waktu lama dan mengalami ketergantungan, menghentikan alkohol secara tiba-tiba dapat memicu gejala putus alkohol yang serius, termasuk gemetar, berkeringat, jantung berdebar, muntah, kejang hingga delirium.

Dalam kondisi tertentu, penghentian alkohol harus dilakukan dengan pengawasan tenaga medis.

Maka cara terbaik bukan menghakimi, tetapi mengajak, mendampingi dan mencari pertolongan profesional.
Keluarga dapat memulainya dengan percakapan ketika orang tersebut sedang sadar dan suasana tenang.

Jangan memulai dengan kemarahan. Katakan bahwa yang dikhawatirkan bukan sekadar kebiasaan minumnya, tetapi kesehatan, masa depan, keluarga dan kehidupannya.

Ajak perlahan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Konseling, terapi perilaku, dukungan keluarga maupun kelompok pendukung dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.

Yang paling penting, jangan menjadikan satu kali kegagalan sebagai alasan untuk menyerah.
Pemulihan adalah perjalanan.
Jika seseorang kembali tergelincir, bukan berarti semuanya berakhir. Yang harus dilakukan adalah mencari tahu apa pemicunya, memperbaiki strategi dan kembali mendapatkan dukungan.

Mengapa Kita Sering Lambat Merespons?

Pertanyaan ini sebenarnya berlaku untuk banyak persoalan kehidupan.
Mengapa kita baru sadar setelah kehilangan?

Mengapa kita baru peduli setelah kesehatan memburuk?

Mengapa kita baru ingin berubah setelah keluarga kecewa?
Karena sering kali manusia merasa masih memiliki waktu.

Kita menunda hari ini, mengatakan besok akan berubah. Besok berubah menjadi minggu depan. Minggu depan berubah menjadi bulan berikutnya.

Tanpa sadar, kebiasaan buruk sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Padahal hidup tidak pernah memberikan jaminan bahwa kita akan memiliki hari esok.

Jangan menunggu tubuh sakit untuk menghargai kesehatan.

Jangan menunggu keluarga pergi untuk belajar menghargai kepercayaan. Jangan menunggu hidup hancur untuk mulai memperbaiki diri.

Dan jangan terus berlari menuju “banyu Londo” hanya untuk mencari pelarian sesaat.

Sebab kebahagiaan yang sebenarnya bukan berada di dasar botol.

Kebahagiaan ada ketika kita mampu bangun pagi dengan pikiran jernih, tubuh sehat, keluarga masih tersenyum, pekerjaan berjalan baik, dan hati tidak lagi dihantui kebohongan yang kita ciptakan sendiri.

Indahnya hidup sehat.
Indahnya hidup tanpa harus berpura-pura.

Indahnya menjadi diri sendiri yang sejati.

Tidak perlu menjadi orang lain agar dihargai. Tidak perlu mengibuli orang lain agar dianggap hebat. Tidak perlu alkohol untuk melupakan masalah.

Hadapi masalah.

Akui kesalahan.

Perbaiki diri.

Minta pertolongan jika tidak mampu berjalan sendirian.

Sebab menjadi manusia sejati bukan berarti tidak pernah salah.
Menjadi manusia sejati adalah berani mengakui kesalahan, berani berubah dan berani meninggalkan sesuatu yang selama ini perlahan menghancurkan diri sendiri.

Pada akhirnya, pilihan itu ada di tangan kita.

Mau terus berlari mengejar kesenangan sesaat, atau berhenti sejenak lalu bertanya kepada diri sendiri:

“Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?”

Jangan terlambat menjawabnya.
Karena hidup yang sehat, jujur dan menjadi diri sendiri jauh lebih indah daripada hidup yang terus-menerus dibangun di atas kebohongan dan pelarian. Sulton

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *